Kedai kecil
Simpang jalan
Hari petang
Sepiring omelet membuka percakapan
Seorang pemuda dan seorang anak laki-laki penjual koran
"Bagaimana harimu?"
"Laku satu, Kak. Tidak lebih banyak dari penghasilan teman-teman saya yang mengemis...
Kakak ndak makan?"
"Kamu lebih lapar.. Eh, lihat deh bapak diseberang sana?..
Belilah semua korek apinya, lalu kemarilah.."
"Tak punya uang, Kak"
"Carilah uang, Dik"
............
"Kak, ini sudah saya beli semua. Lalu?"
Pemuda itu tersenyum
"Berapa semuanya dikali tiga kali lipat harga korek apinya? Kakak bayar! Juga koran hari ini satu, ya!"
"Terima kasih banyak Kak, tapi kenapa?"
"Sepadan bagi sebuah kerja keras tanpa meminta, Dik."
...
Tuesday, March 26, 2013
- Ini akibat kuliah yang terlalu ambil serius semua hal -
A: Lupa ya cara bersenang-senang?
B : Enggak ah
A : Kok tadi serius banget sih?
B : Itu becanda tauk, gak usah diambil serius, lupa ya cara bersenang-senang?
A : ............
B : Enggak ah
A : Kok tadi serius banget sih?
B : Itu becanda tauk, gak usah diambil serius, lupa ya cara bersenang-senang?
A : ............
Teh Pukul Empat
Teh pukul empat
Yang tersuguhkan
Biar ia tiup hingga dingin
Biar tenteram dulu dipandang
Pelan-pelan ia harumi
Hingga kering uapnya
Teh pukul empat
Yang tersuguhkan
Biar ia putar-putar cangkirnya
Biar ia centang centing sendoknya
Pelan-pelan ia angkat
Hingga tersentuh panasnya
Teh pukul empat
Yang tersuguhkan
Biar ia tambahkan gula-gula
Biar ia maniskan airnya
Pelan-pelan ia cicipi
Hingga tak ada lagi tersisa
Teh pukul empat
Yang tersuguhkan
Biar ia tuangkan
Biar ia habisi isinya
Pelan-pelan ia tunggu keesokannya
Hingga tiba teh pukul empat
berikutnya....
Tentu saja teh yang sama
Dari suguhan tangan yang sama
Dengan hari ini,
Esok,
Dan Seterusnya
Teh pukul empat,
Bukan sirup manis indah aneka warna
Ia hanya air bening kecoklatan
Yang menenangkan
Ia bukan susu segar yang putih Yang disukai semua orang
Ia sederhana dalam cangkirnya Anggun setia pada pukul empat
Sore jelang senja
-Ira Indah
Yang tersuguhkan
Biar ia tiup hingga dingin
Biar tenteram dulu dipandang
Pelan-pelan ia harumi
Hingga kering uapnya
Teh pukul empat
Yang tersuguhkan
Biar ia putar-putar cangkirnya
Biar ia centang centing sendoknya
Pelan-pelan ia angkat
Hingga tersentuh panasnya
Teh pukul empat
Yang tersuguhkan
Biar ia tambahkan gula-gula
Biar ia maniskan airnya
Pelan-pelan ia cicipi
Hingga tak ada lagi tersisa
Teh pukul empat
Yang tersuguhkan
Biar ia tuangkan
Biar ia habisi isinya
Pelan-pelan ia tunggu keesokannya
Hingga tiba teh pukul empat
berikutnya....
Tentu saja teh yang sama
Dari suguhan tangan yang sama
Dengan hari ini,
Esok,
Dan Seterusnya
Teh pukul empat,
Bukan sirup manis indah aneka warna
Ia hanya air bening kecoklatan
Yang menenangkan
Ia bukan susu segar yang putih Yang disukai semua orang
Ia sederhana dalam cangkirnya Anggun setia pada pukul empat
Sore jelang senja
-Ira Indah
Siapa yang Tersisa?
Saat lo mulai terbuka & jujur, maka mereka yang tersisa adalah mereka yang benar-benar mencintai tulus.
Subjek
Subjek yang kamu ganti-ganti itu
terdengar pun parau
terlihat pun kabur
tersentuh pun tidak
tercium pun kecut
terasa pun pahit
jadi, tak usah saja subjeknya.
Kita bicara dengan predikat dan keterangan saja apa
BIAR SALAH asal tak LELAH
Bagaimana?
(Ditulis untuk pasangan baru putus-dan masih berkomunikasi-yang risih dengan sebutan aku-kamu-lo-gue ke mantan yang bisa berubah-ubah tergantung suasana hati. Sungguh menyebalkan, bukan?)
terdengar pun parau
terlihat pun kabur
tersentuh pun tidak
tercium pun kecut
terasa pun pahit
jadi, tak usah saja subjeknya.
Kita bicara dengan predikat dan keterangan saja apa
BIAR SALAH asal tak LELAH
Bagaimana?
(Ditulis untuk pasangan baru putus-dan masih berkomunikasi-yang risih dengan sebutan aku-kamu-lo-gue ke mantan yang bisa berubah-ubah tergantung suasana hati. Sungguh menyebalkan, bukan?)
Kepo atau Basa-Basi
Terlepas dari nilai rasa positif atau negatif dari sebuah makna kepo
dan basa-basi, bagi gue kepo itu budaya. Small talk-nya Indonesia.
Contoh kalau ketemu tetangga di jalan, udah biasa ditanya “Mau kemana?”. Kalau dulu pertanyaan “Mau kemana?” dijawab: “Mau ke depan. Mari!”.. Kalau sekarang masyarakatnya udah bisa jawab sesukanya: “Kepo banget sih”.
Nah kalau jawabannya udah sampai “Kepo banget sih!”, biasanya akan ditangkis lagi dgn jawaban “Sombong banget sih lu gak ngajak-ngajak.”
Jadi, kalau dulu basa basi ala Indonesia adalah atas dasar keramahan, sekarang trennya lebih ke “judgement” sih ya.
Contoh kalau ketemu tetangga di jalan, udah biasa ditanya “Mau kemana?”. Kalau dulu pertanyaan “Mau kemana?” dijawab: “Mau ke depan. Mari!”.. Kalau sekarang masyarakatnya udah bisa jawab sesukanya: “Kepo banget sih”.
Nah kalau jawabannya udah sampai “Kepo banget sih!”, biasanya akan ditangkis lagi dgn jawaban “Sombong banget sih lu gak ngajak-ngajak.”
Jadi, kalau dulu basa basi ala Indonesia adalah atas dasar keramahan, sekarang trennya lebih ke “judgement” sih ya.
Berhenti
Titik ketika alam bawah sadar memberi pesan pada kesadaran..
Lalu otak melalui syaraf-syaraf mengirim sinyal kepada panca indera untuk merasakan dan merespon tiap kejadian..
Hingga apa yg terasa mulai membentuk tindakan..
Indah memang, betapa semua yang membentuk kita kini adalah akumulasi dari pilihan2 kecil maupun besar di masa lampau.
Ya, kita berhenti pada satu titik,
titik beku, bagai es yang tidak lagi bertambah padat,
melainkan ingin retak dan menjatuhkan diri pada ruang bebas, lalu mencair..
mengalir bagai air,
pergi ke udara bebas, menikmati perjalanan,
dan mengalir hingga ke samudera..
Semoga, titik-titik air dari sebongkah es batu kesadaran ini selamat menuju Samudera
dan merasakan Semesta..
Monday, December 19, 2011
Hari-hari Terakhir di Kosan Hijau
Teman sekamar udah pindah, tinggal beberapa hari lagi masih disini.
Dua tahun cuy! Dua tahun. Bukan waktu yang sebentar kami di kosan hijau ini.
Dari yang masih pacarnya dulu si "anu" jadi si "ehem" mampir ke teras depan pacaran ditemenin satpam kosan (hihihihi) , dari harga perkamarnya 440ribu sampai jadi 650ribu *melotot*, dari jaman masih suka bareng-bareng kemana-mana nempel segeng sampai sekarang udah punya kesibukan masing-masing.
Kosan hijau ini biar keliahatannya gedung kayu reot, tapi banyak angin keceriaan buat perempuan-perempuan tangguh Sastra Jerman --> Ira, Sodik, Sekar, Rara, Desin.
Dan semuaaaaa *pas banget nih ada backsoundnya Marcell*.....
Dan semua berakhir di Januariii ...
Januari 2012, kosan ini sudah gak ada kami lagi.
Kemana?
Sodik, dia dan saya sudah berjanji padahal untuk bikin skripsi bareng-bareng di kamar ini satu semester. Tapi apa di kata takdir berkata lain. Sodik kecelakaan cukup parah di kampus. Sejak itu bapak ibunya gak bolehin lagi dia ngekos , ya di bulan Desember 2011 ini. Rasanya sepi gak ada lagi langkah kaki buru-buru masuk kamar dan Sodik masuk jawab Assalamualaikum dari gue *lah.
Sepertinya percakapan tiap malam kita tiap hari sudah jadi dongeng sebelum tidur.
Rara Desin, mereka sudah akan lulus semester ini karena mereka gak skripsi. Dulu ya pas kita masih lowong kuliahnya, ngobrol sampai tengah malam, foto-foto, gosip, nonton dvd, sampai nyalon mendadak di kamar rara sampai tengah malam itu hal yang biasa. Kami pemeran antagonis di kosan ini karena lengkingan suara ketawa kita sampai tengah malam pastinya ganggu kamar-kamar sebelah. hehehe.
Sekar, dia udah gak boleh ngekos lagi semester depan. Alasannya sama kayak saya, udah makin mahal kosan ini. Kalau dulu jam 6-7 itu waktu kita makan keluar di warteg plus sesi curhat, sekarang ya jam segitu lagi sibuk sama laptop masing-masing dengan kerjaannya masing-masing.
Kosan hijau, mungkin 10 atau 20 tahun lagi kosan ini masih ada. Pak Jun dan Mas Iwan yang setia jaga di depan, jaga motor saya juga (Mas Iwan pernah ngegembok motor saya pas saya lupa gembok motor). :0
Kita akan punya hidup di jalan pilihan masing-masing , setelah ini .
*hahahah* Aufwiedersehen.
Subscribe to:
Posts (Atom)